7 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Startup Ketimbang Kerja di Perusahaan Besar

Keuntungan Bekerja di Perusahaan Startup – Pernah terpikir untuk bekerja di sebuah perusahaan startup? Atau kamu sudah pernah punya pengalaman bekerja di perusahaan startup? Memangnya apa keuntungan bekerja di perusahaan startup? Atau malah belum pernah mendengar sama sekali tentang perusahaan startup?

Startup company

“Perusahaan Startup atau Perusahaan Rintisan (source : olpreneur.com)”

Tentu bekerja di perusahaan manapun, dan apapun bidang industrinya, memiliki nilai plus dan minus masing-masing. Dan nilai plus dan minus inilah yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan akan bekerja dimana kelak. Bagi yang tertarik untuk berkarir di perusahaan startup, ayo coba disimak beberapa keuntungan yang kelak mungkin akan didapatkan :

1. Jam kerja yang fleksibel

Kamu tentu sering mendengar bahwa jam kerja normal di Indonesia adalah 8 jam kerja per hari. Dalam prakteknya, ada perusahaan yang memberlakukan jam kerja dari jam 7 pagi s/d jam 4 sore, atau ada juga yang menerapkan jam kerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Di perusahaan startup, kamu tidak akan menemukan kebijakan tersebut. Jam kerja normal tetap 8 jam kerja per hari, namun tidak ada batasan harus mulai jam berapa. Jika datang kantor jam 10 pagi, tinggal hitung saja 8 jam kemudian, jadi jam pulang setidaknya jam 6 sore. Bahkan tidak jarang masuk setelah jam makan siang, dan tinggal hitung saja jam pulang setelah 8 jam kemudian (biasanya dilakukan oleh pegawai yang doyan kerja malem, atau memang keadaan mengharuskan kerja sampai malam, contoh tim engineering development).

Jam kerja yang fleksibel

“Jam Kerja yang Fleksibel (source : humanresourcesonline.net)”

Bahkan yang lebih mengasikkan lagi, jika terjadi suatu keadaan yang memaksa pegawai tidak bisa setor muka di kantor, maka si pegawai ybs dapat menerapkan working from home. Tinggal lapor ke atasan, pastikan koneksi internet di rumah tersedia, si pegawai tinggal meneruskan kerjaan dari kediaman masing-masing.

2. Mempelajari hal-hal baru

Pernah membayangkan kamu bekerja di bagian pembukuan sebuah bank? Atau bekerja di bagian marketing di sebuah perusahaan jasa? Kesamaannya adalah kamu bakalan melakukan pekerjaan yang itu-itu saja! Bukan dalam arti negatif, namun suatu saat bakalan ada perasaan jenuh karena hanya melakukan hal yang sama setiap harinya, dan pasti juga terbersit dalam pikiran untuk melakukan hal lainnya.

Jangan khawatir, dengan bekerja di perusahaan startup, kamu tidak hanya deal with one specific thing. Ambil contoh misalkan kamu bekerja di bagian product development di sebuah perusahaan startup, kamu juga sedikit banyak akan terlibat dalam hal lainnya seperti engineering, marketing, content, atau bahkan customer support. Contoh lain misalkan kamu berkarir di bagian media sosial di sebuah perusahaan startup, bisa dipastikan kamu tidak hanya mengurusi media sosial sehari-harinya, namun juga terlibat dalam marketing campaign, customer support, bahkan sampai kegiatan business development.

belajar hal baru

“Belajar hal baru (source : liputan6.com)”

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sebuah perusahaan startup tidak memiliki sumber daya dalam jumlah banyak. Walhasil, setiap bagian atau divisi dalam sebuah perusahaan startup benar-benar mengandalkan resource terbatas tersebut, dan tidak jarang juga melakukan “outsource” dari divisi lainnya. Sejalan dengan hal tersebut, persona di dalam perusahaan startup pun tidak jarang melakukan double job atau bahkan triple job, untuk dapat meng-cover kebutuhan perusahaan secara umum.

3. Keluarga kedua

Sebenarnya di manapun tempat kerjanya, kita bisa menganggapnya sebagai keluarga kedua. Kenapa? Karena sehari-hari kita bakalan bertemu dan berkomunikasi intens dengan kolega atau rekan sekantor. Otomatis semakin lama kita berkomunikasi dengan orang-orang tersebut, tidak jarang kita pun menganggap orang-orang di kantor sebagai rekan senasib sepenanggungan. Hal yang sama pun akan kamu temukan jika bekerja di perusahaan startup. Bahkan, terkadang karena jumlah pegawai di perusahaan startup bisa dihitung dengan jari, kita bisa makin mengenal semua pegawai lebih jauh. Di beberapa perusahaan startup yang personilnya sudah saling lama mengenal atau sudah lama bergabung dalam perusahaan tersebut, cenderung akan menjadi lebih erat dalam hal per-teman-an. Mulai dari makan siang, bercengkerama, atau terkadang makan malam bersama sudah menjadi santapan sehari-hari. Bahkan keluh kesah pun gak jauh-jauh dari rekan sekantor ini.

Keluarga kedua

“Keluarga kedua (source : digitalnewsasia.com)”

4. Berkontribusi secara nyata

Bagi beberapa pihak tertentu, terkadang keinginan untuk dapat berkontribusi menjadi dasar pemilihan dalam memilih pekerjaan. Jika peran atau kontribusi kita sudah terlampau dibatasi atau bahkan tidak diakui, orang tersebut cenderung akan menjadi demotivasi dan bukan tidak mungkin mencari pekerjaan di tempat lain. Hal ini yang sering tidak didapatkan pegawai jika bekerja di perusahaan besar yang sudah mapan, atau biasa disebut corporate. Karenan banyaknya pegawai yang terlibat dalam sebuah corporate, seringkali tugas seseorang pegawai tidak terlalu mendapat notice dari atasan, dan terkadang hal sepele ini yang sering tidak diindahkan oleh manjemen perusahaan. Jangan khawatir, jika Kamu tipe pegawai yang ingin memberikan kontribusi secara nyata dan ingin mendapat recognize lebih fair, maka bekerja di perusahaan startup dapat menjadi opsi terbaik.

Kontribusi secara nyata

“Kontribusi secara nyata (source : aquariuslearning.co.i)”

Kenapa begitu? Karena skala perusahaan yang lebih kecil dari corporate, membuat tugas seorang pegawai dalam perusahaan startup menjadi lebih critical dan bisa dibilang memiliki tanggung jawab lebih besar. Sebagai perbandingan, dalam sebuah perusahaan corporate, misalkan bagian Human Resource Department biasanya diisi oleh lebih dari 10 personil, berbeda dengan perusahaan startup yang mungkin hanya mempekerjakan 1 orang atau paling banyak 2 orang! Tentunya skala kontribusi 10 orang dibandingkan 2 orang jelas akan lebih “kelihatan” kontribusi dari jumlah personil yang lebih sedikit.

5. Suasana kerja yang fun

Dalam dunia kerjaan, istilah fun digunakan untuk mendeskripsikan suasana atau kondisi yang kerja fleksibel dan less-pressure. Ditambah lagi suasana kekeluargaan yang terjalin erat dengan sesama rekan sekantor. Iming-iming inilah yang banyak dijual oleh perusahaan startup untuk menggaet kandidat potensial. Buat apa gaji besar, namun suasana kerja mencekam atau penuh dengan tekanan. Di perusahaan startup, kisaran besaran gaji memang bisa diperdebatkan, namun suasana kerja di perusahaan startup mayoritas sudah memenuhi aspek tersebut diatas.

Suasana kerja yang fun

“Suasana kerja yang fun (source : umblittleman.com)”

6. Kantor yang asik

Pernah menonton film The Internship? Film ini menceritakan tentang pengalaman 2 orang sahabat dalam program magang di Google. Sebagai informasi, pada awal pendiriannya Google seringkali disebut sebagai pionir perusahaan startup, dan sudah sangat jamak bahwa banyak perusahaan startup di seluruh dunia menjadikan Google sebagai role model. Kembali ke dalam film The Internship, digambarkan bahwa suasana kerja di Google adalah sangat colorful, penuh dengan wahana pendukung aktivitas, dan tentunya berbagai peralatan kantor yang super lengkap. Sudah jamak bahwa perusahaan startup dimanapun di belahan dunia juga berlomba-lomba mengikuti konsep Google untuk menawarkan benefit berupa kantor yang asik bagi pegawainya.

Kantor yang asik

“Kantor yang asik (source : bestdesignguides.com)”

Di Indonesia sendiri contoh teraktual adalah Matahari Mall atau Kaskus. Tanyakan kepada pihak yang pernah berkunjung ke kantor dari dua perusahaan startup tersebut, sudah pasti mereka bakal mengangguk setuju bahwa memang kantor yang didesain sedemikian rupa bagusnya akan membuat motivasi kerja menjadi bertambah. Konsep utama yang didengungkan dalam desain kantor bagi perusahaan startup adalah desain kantor yang fleksibel, homey, dan colorful. Tujuannya jelas untuk membuat betah dan nyaman pegawai dalam melakukan tugasnya dan bahkan bisa meningkatkan produktivitas kerja.

7. Tidak ada senioritas

Tidak ada batasan usia tertentu untuk dapat bekerja di perusahaan startup. Namun faktanya di Indonesia, mayoritas pegawai yang ingin atau masih bekerja di perusahan startup adalah usia 21-35 tahun. Banyak faktor mengapa rentang usia di atas usia tersebut cukup jarang yang berkecimpung di perusahaan startup, dan salah satunya adalah faktor compensation & benefit. Bisa dikatakan usia 35 tahun ke atas adalah usia dimana seseorang sudah berkeluarga, dan tentunya pegawai yang sudah berkeluarga memiliki kebutuhan yang lebih besar dibandingkan pegawai yang masih lajang. Hal ini agak sulit didapatkan jika bekerja di perusahaan startup. Beda halnya dengan pegawai yang masih lajang, fokus utama mereka biasanya adalah aktualisasi diri dan akselerasi karir, dimana hal ini bisa didapatkan jika bekerja di perusahaan startup. Tidak heran jika didalam sebuah perusahaan startup didominasi oleh pegawai berusia muda, dan positifnya hal ini meminimalisir senioritas. Unsur senioritas oleh pegawai yang berusia lebih tua biasanya digantikan oleh hal yang lebih positif seperti kegiatan mentor atau kegiatan tandem untuk beberapa divisi tertentu.

Tidak ada senioritas

“Tidak ada senioritas (source : sjc.media)”

Nah, hal tersebut diatas adalah beberapa keuntungan jika kamu memutuskan untuk memulai karir atau bahkan melanjutkan karir di perusahaan startup. Perusahaan startup atau perusahaan rintisan tentunya tidak menawarkan benefit besar layaknya sebuah perusahaa korporasi besar, tapi masih banyak hal intangible lainnya yang mampu diberikan oleh perusahaan startup, seperti : wawasan pengetahuan, koneksi, kenyamanan kerja, suasana kerja yang fun, dan lainnya. So, bekerja di perusahaan startup bukanlah lagi sebuah opsi terakhir, namun sudah mulai menjadi tren gaya hidup di masa sekarang ini.

Leave a Reply

error: Content is protected !!